Kartini Milenial, Perempuan Jadi Inovator

Hari Kartini, 21 April, tidak hanya seremonial perempuan memakai kebaya dan bersanggul saja. “Kartini” milenial justru membuktikan perempuan masa kini sebagai inovator teknologi.

Perayaan Hari Kartini yang dirayakan setiap 21 April, identik dengan semangat emansipasi wanita tidak hanya dirayakan kaum hawa dengan seremonial berbusana kebaya dan bersanggul. Perempuan masa kini atau “Kartini ‘ milenial justru membuktikan perempuan bisa menjadi inovator.

Dengan berbekal ide sederhana, dua mahasiswi Universitas Sebelas Maret UNS Solo maju dalam kompetisi ajang Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Nasional 2018 yang digelar Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Aktifitas penelitian keduanya secara intensif didampingi para dosen ahli dibidangnya.

Ratih Rachmatika, Mahasiswi Teknik Elektro UNS Solo, memilih membuat aplikasi dalam smartphone mengembangkan teknologi SIAB, Siaga Air Bersih, alat perangkat elektronik dan aplikasi untuk mengukur kualitas air berbasis internet. Menurut Ratih, kondisi air bisa dimonitor 24 jam dengan alat sensor yang dibuatnya sekaligus terkoneksi dengan handphone (HP) untuk melihat tingkat kelayakan air dikonsumsi masyarakat.

“Kami masukkan data air layak konsumsi sesuai standar Kementerian Kesehatan dan PDAM. Sensor akan mengukur kondisi air dan akan memberi informasi apakah air yang kita teliti itu sesuai standar kelayakan untuk dikonsumsi atau tidak. Sensor dan alat kita hubungkan ke jaringan internet dan aplikasi smartphone sehingga bisa diakses secara cepat dan akurat.sistem ini belum kita kembangkan secara luas, masih prototipe, keterbatasan data server dan dana, tapi sudah kita uji berulang kali, hasilnya memuaskan,” kata Rahmatika.

Prototipe SIAB ini memanfaatkan sensor yang tahan air terhubung aplikasi smartphone.Alat dan aplikasi sistem rancangannya, mulai dikerjakan sekitar satu tahun lalu dengan menghabiskan dana sekitar Rp10 juta, biaya patungan dari kampus dan sendiri. Selain itu juga harus melalui berulang kali mengalami trial dan error. Alat dan aplikasi telah diuji coba dengan sampel air Sungai Bengawan Solo.

Mahasiswi Teknik eletro UNS Solo memamerkan aplikasi sistem air bersih buatannya dari smartphonenya. (Foto: VOA/Yudha)

Mahasiswi Teknik eletro UNS Solo memamerkan aplikasi sistem air bersih buatannya dari smartphonenya. (Foto: VOA/Yudha)

Sementara itu, Arifah Eviyanti, mahasiswi Agribisnis Fakultas Pertanian UNS Solo memilih membuat produk pestisida alami nabati gel dari ekstrak akar putri malu, Mimosa pudica, untuk tanaman cabai, khususnya yang ditanam di lahan pasir pantai Indonesia. Menurut mahasiswi kelahiran tahun 1998 ini, tanaman cabai dipilih karena diperkirakan kebutuhan konsumsi cabai masyarakat terus bertambah.

“Potensi lahan pasir pantai di Indonesia sangat besar, Indonesia negeri maritim. Hampir 99.000 kilometer luasnya. Apabila dimanfaatkan maksimal pasti konsumsi cabai dapat tercukupi. Kami terus berupaya mendukung agar Indonesia berinovasi berbasis ramah lingkungan untuk peningkatan produktivitas cabai. Saat ini Indonesia masih menggunakan fungisida kimia yang berbahaya. Ini tidak berkelanjutan. Sehingga harus beralih dari kimia ke nabati. Hasil penelitian ini menunjukkan ekstrak akar putri malu konsentrasi 90 persen, mampu menghambat penyakit 28 persen, dan kejadian penyakit nol persen,” kata Arifah.

Tanaman putri malu yang selama ini masih dianggap gulma, tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian diyakini bisa menurunkan hasil pertanian. Putri malu tersedia melimpah di alam, belum tergarap masih jadi tanaman liar, dan budidayanya mudah.

Budidaya tanaman cabai di lahan pasir pantai masih terus dilakukan, antara lain di Kawasan Kulonprogo, Bantul hingga Gunung Kidul Yogyakarta dengan bentangan pasir pantai sekitar 70 kilometer maupun Kawasan Pantai Selatan Kebumen Jawa Tengah dengan potensi lahan 250 hektar. [ys/gp]

Sumber / Copyright : voaindonesia.com